ekosistembisnis.com — Inovasi digital UMKM di Kota Bandung terus berkembang, salah satunya melalui hadirnya platform online khusus penjualan kue tradisional karya anak muda lokal. Platform ini dirancang untuk mempermudah pelaku UMKM kuliner memasarkan produk khas Nusantara, mulai dari brownies kukus Bandung, putu ayu, wajit Cililin, awug, combro manis, hingga klepon isi gula aren.
Platform yang dikembangkan sejak awal 2025 ini menggabungkan fitur katalog digital, pembayaran otomatis, pengiriman instan, serta ruang edukasi UMKM. Tidak sedikit pengusaha kue rumahan yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan offline, kini meraih konsumen hingga luar kota.
“Visi kami adalah membuat ekosistem kue tradisional Bandung yang mudah diakses pembeli, sekaligus meningkatkan pendapatan UMKM lokal,” ujar Daffa Rizqullah, founder platform tersebut.
Baca Juga: “Portal Makassar Analisis Tren E-Commerce Musim Liburan Akhir“
Platform UMKM Di Bandung Dorong Digitalisasi Penjual Kue Tradisional
Didukung oleh komunitas kuliner Bandung dan Dinas Koperasi UMKM, platform ini telah menampung lebih dari 180 penjual kue tradisional dalam tiga bulan pertama.
Fitur-fitur utamanya dirancang agar mudah dipakai penjual pemula yang belum terbiasa dengan teknologi, seperti:
- Upload foto produk hanya dengan kamera ponsel.
- Pencatatan stok otomatis.
- Pemilihan kurir instan dalam satu klik.
- Pengaturan diskon musiman untuk hari besar dan acara keluarga.
“Dulu saya hanya jual kue putri noong dari rumah, pelanggan terbatas sekali. Setelah masuk platform, pesanan bisa datang dari mana saja,” kata Siti Mardiana, pelaku UMKM dari Cibaduyut.
Dampak langsung yang dirasakan UMKM Di Bandung:
- Penjualan meningkat 35% dalam dua bulan.
- Lebih mudah menemukan pelanggan baru tanpa biaya promosi besar.
- Kue tradisional kembali populer di kalangan anak muda.
- Jangkauan pengiriman mencakup seluruh Bandung Raya.
“Digitalisasi itu bukan soal aplikasi canggih, tapi soal akses yang merata bagi semua penjual,” jelas Daffa.
Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas Kuliner UMKM Di Bandung
Keberhasilan platform ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah menyediakan pelatihan dasar digital marketing untuk UMKM pemula, sementara komunitas kuliner seperti Bandung Food Creative Hub membantu kurasi foto produk agar lebih menarik.
Menurut Niasya Prawira, perwakilan Dinas Koperasi Bandung, kolaborasi inilah yang memungkinkan inovasi bisa digunakan secara luas.
“Kami melihat potensi platform ini sebagai jembatan antara UMKM tradisional dengan konsumen urban yang ingin makanan autentik. Karena itu kami dukung penuh dari sisi pelatihan dan pendampingan teknis.”
Bentuk dukungan nyata:
- Kelas fotografi makanan gratis tiap bulan.
- Workshop branding kue tradisional.
- Pendampingan packaging ramah lingkungan.
- Bantuan modal kecil untuk UMKM pemula.
“Kami ingin kue tradisional tidak hanya enak, tapi juga memiliki tampilan profesional agar bersaing di pasar digital,” tegas Niasya.
Pusat Edukasi Kue UMKM Di Bandung dan Pengembangan Resep
Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai marketplace, tetapi juga pusat belajar bagi para penjual. Setiap minggu diadakan sesi streaming edukatif, seperti:
- Cara membuat kue basah tahan lama tanpa pengawet.
- Teknik pengemasan kue menggunakan bahan ramah lingkungan.
- Riset rasa baru untuk menarik generasi muda.
- Strategi promosi sederhana menggunakan Instagram dan WhatsApp Business.
Menurut Laras Intan, pengajar sekaligus praktisi kuliner, edukasi ini penting agar UMKM tidak tertinggal.
“Banyak penjual kue tradisional punya resep enak, tapi tidak tahu cara mempresentasikan produk secara digital. Di sinilah platform membantu.”
Contoh kelas yang paling diminati:
- “Brownies Kukus Bandung Varian Premium”
- “Kue basah anti cepat basi untuk perjalanan jauh”
- “Storytelling kue tradisional agar menarik konsumen muda”
- “Foto produk hanya dengan cahaya jendela”
“Anak saya jadi tertarik belajar membuat awug dan mencoba menjual di sekolah,” kata Rossa Andina, salah satu peserta kelas daring.
Dampak Ekonomi dan Sosial untuk Bandung
Platform ini membawa dampak signifikan, terutama bagi para pedagang kue di daerah pinggiran Kota Bandung seperti Rancaekek, Kopo, Cileunyi, dan Banjaran.
Beberapa pencapaian nyata:
- Pendapatan UMKM naik rata-rata 40% setelah tiga bulan bergabung.
- Banyak ibu rumah tangga yang kembali membuka bisnis kue rumahan.
- Terbentuk komunitas baru “Sahabat Kue Bandung Digital”.
- Peta kuliner tradisional Bandung semakin dikenal wisatawan.
Bahkan ada UMKM yang memanfaatkan platform untuk membuka usaha turunan, seperti katering acara keluarga, hampers ulang tahun, dan jualan tepung premix kue tradisional.
“Dengan teknologi ini, kue tradisional bukan lagi produk kampungan, tapi identitas budaya yang layak dibanggakan,” ujar Ismet Tamim, salah satu penjual wajit Cililin.
Menuju Ekspansi Nasional dan Sistem Pembayaran Terintegrasi
Melihat antusiasme besar, tim pengembang platform kini menargetkan ekspansi ke kota lain, seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Yogyakarta. Mereka juga tengah merampungkan fitur pembayaran terintegrasi serta rekomendasi otomatis berdasarkan lokasi dan preferensi pembeli.
“Kami ingin memastikan setiap kota memiliki ruang digital untuk melestarikan kue tradisionalnya,” kata Daffa.
Studio teknologi lokal di Bandung pun mulai terlibat dalam proses desain aplikasi versi mobile, agar tampilannya semakin ramah pengguna dan cepat diakses.
Dengan dukungan komunitas, UMKM, dan pemerintah, platform ini menjadi simbol bahwa modernisasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan nilai tradisi.
Baca Juga: “AMMAN dan Mastercard Dorong Transformasi Digital UMKM dan Pemberdayaan Pengusaha Perempuan“











