Inaco Bersiap IPO, Dana Rp392 Miliar Akan Memperkuat Produksi dan Ekspansi Bisnis
ekosistembisnis – PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman penutup bermerek Inaco, bersiap memasuki pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Perseroan menawarkan maksimal 350 juta saham baru dengan target dana mencapai Rp392 miliar.
Jumlah saham tersebut mewakili 25,93 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat kegiatan logistik, membayar sebagian pinjaman, dan menambah modal kerja.
Berdasarkan prospektus awal yang dikutip pada Senin, 15 Juni 2026, setiap saham memiliki nilai nominal Rp100. Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran awal sebesar Rp900 hingga Rp1.120 per saham.
Pada batas harga tertinggi, Inaco berpeluang memperoleh dana segar hingga Rp392 miliar. Seluruh saham yang ditawarkan merupakan saham baru dan akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.
PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Penjaminan dilakukan menggunakan skema kesanggupan penuh atau full commitment.
Mayoritas Dana IPO Dialokasikan untuk Anak Usaha
Setelah dikurangi biaya emisi, sekitar 51,04 persen dana IPO akan diberikan sebagai penyertaan modal kepada PT Niramas Pandaan Sejahtera atau NPS.
Anak usaha tersebut akan memanfaatkan dana untuk membiayai belanja modal. Penggunaannya mencakup pembelian dan pemasangan mesin produksi baru.
Investasi mesin tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pembuatan gummy candy dan berbagai produk jelly. Penambahan kapasitas diharapkan membantu perusahaan memenuhi pertumbuhan permintaan di pasar domestik.
Ekspansi melalui anak usaha juga menunjukkan bahwa Inaco tidak hanya mencari tambahan likuiditas dari pasar modal. Perusahaan menjadikan IPO sebagai sarana untuk memperkuat kemampuan produksi dalam jangka panjang.
Inaco Menambah Mesin dan Kapasitas Gudang
Sekitar 18,36 persen dana hasil penawaran saham akan digunakan langsung oleh PT Niramas Utama untuk belanja modal.
Perseroan berencana membeli dan memasang mesin produksi beserta peralatan pendukung. Dana tersebut juga akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan gudang.
Peningkatan fasilitas gudang dapat membantu perusahaan mengatur persediaan secara lebih efisien. Selain itu, penambahan peralatan diharapkan mempercepat proses distribusi dan logistik produk.
Kapasitas penyimpanan yang memadai menjadi faktor penting bagi perusahaan makanan dan minuman. Produk harus disimpan, diproses, dan dikirim dengan pengendalian mutu yang konsisten agar tetap memenuhi standar keamanan pangan.
Sebagian Dana Digunakan Membayar Pinjaman Bank
Inaco akan mengalokasikan sekitar 10,63 persen dana IPO untuk membayar sebagian pinjaman jangka pendek kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Pelunasan sebagian utang dapat membantu perusahaan mengurangi tekanan kewajiban jangka pendek. Langkah ini juga berpotensi memberi ruang yang lebih besar bagi perseroan dalam mengatur arus kas operasional.
Namun, prospektus awal belum menjelaskan secara terperinci perubahan beban keuangan yang dapat terjadi setelah pembayaran tersebut. Investor tetap perlu mencermati laporan keuangan final dan prospektus lengkap sebelum mengambil keputusan investasi.
Modal Kerja Menopang Bahan Baku dan Pemasaran
Sisa dana IPO sebesar kurang lebih 19,97 persen akan dipakai sebagai modal kerja.
Penggunaannya meliputi pembelian bahan baku, pembayaran biaya operasional, serta pendanaan kegiatan pemasaran. Modal kerja yang kuat dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan produksi ketika volume penjualan meningkat.
Bagi produsen makanan, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga jadwal produksi. Perusahaan juga harus mengelola biaya pengadaan karena harga bahan baku dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan rantai pasok.
Dana pemasaran dapat membantu Inaco memperkuat pengenalan merek, memperluas jaringan distribusi, serta mendorong penjualan pada berbagai kategori produk makanan penutup.
Empat Pabrik Menopang Operasional Inaco
PT Niramas Utama berdiri sejak 1990 dan berkantor pusat di Kabupaten Bekasi. Perusahaan menjalankan bisnis utama di sektor makanan dan minuman penutup.
Perseroan memiliki empat fasilitas produksi yang tersebar di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi. Jaringan pabrik tersebut menjadi fondasi perusahaan dalam memproduksi dan mendistribusikan produk ke berbagai wilayah.
Keberadaan pabrik di beberapa lokasi juga dapat membantu perusahaan mendekati pasar dan jaringan distribusi. Meski demikian, pengelolaan banyak fasilitas membutuhkan koordinasi operasional, pengendalian biaya, dan standar mutu yang seragam.
Penjualan Inaco Tembus Rp753,05 Miliar
Dari sisi kinerja keuangan, PT Niramas Utama membukukan penjualan sebesar Rp753,05 miliar sepanjang 2025.
Perseroan mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp39,03 miliar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan laba Rp11,63 miliar pada 2024.
Kenaikan laba menunjukkan adanya perbaikan hasil usaha dalam periode tersebut. Berdasarkan angka tersebut, laba perusahaan tumbuh lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada akhir 2025, total aset perseroan tercatat sebesar Rp552,11 miliar. Sementara itu, nilai ekuitas perusahaan mencapai Rp145,52 miliar.
Data keuangan itu memberikan gambaran awal mengenai skala operasional Inaco sebelum menjadi perusahaan terbuka. Namun, calon investor tetap perlu menilai kualitas laba, arus kas, utang, serta keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.
Pasar Makanan Penutup Dinilai Masih Bertumbuh
Perseroan memandang industri makanan dan minuman, terutama kategori makanan penutup, masih menawarkan peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.
Penilaian tersebut didukung oleh besarnya pasar konsumen Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada 2025 disebut telah melampaui 286 juta jiwa.
Industri makanan dan minuman juga memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Dalam prospektus, sektor tersebut disebut memberikan kontribusi sekitar 7,13 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Industri makanan juga dicatat tumbuh sekitar 6,38 persen secara tahunan. Pertumbuhan konsumsi domestik dapat membuka peluang bagi produsen yang memiliki jaringan distribusi luas dan portofolio produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Meski demikian, besarnya populasi tidak secara otomatis menjamin kenaikan penjualan. Perseroan tetap harus menghadapi persaingan merek, perubahan selera konsumen, tekanan harga, serta perkembangan produk alternatif.
Volatilitas Harga Bahan Baku Menjadi Risiko Utama
Dalam prospektus awal, perusahaan menyebut ketersediaan dan perubahan harga bahan baku sebagai risiko utama bagi kegiatan usaha.
Kenaikan biaya bahan baku dapat menekan margin keuntungan apabila perusahaan tidak mampu menyesuaikan harga jual atau meningkatkan efisiensi produksi.
Gangguan pasokan juga dapat memengaruhi jadwal produksi. Oleh sebab itu, kemampuan perusahaan mengelola pemasok, persediaan, dan kontrak pembelian menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Selain risiko operasional, investor menghadapi kemungkinan saham Inaco tidak aktif diperdagangkan setelah pencatatan. Rendahnya likuiditas dapat menyulitkan pemegang saham untuk membeli atau menjual saham pada harga yang diinginkan.
Calon investor juga perlu mempertimbangkan bahwa harga saham setelah IPO dapat bergerak naik maupun turun. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi pasar modal, serta sentimen terhadap sektor konsumsi.
Jadwal IPO Inaco Berlangsung hingga Juli 2026
Masa penawaran awal atau bookbuilding dijadwalkan berlangsung pada 15–22 Juni 2026.
Perseroan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada 29 Juni 2026. Setelah itu, masa penawaran umum direncanakan berlangsung pada 1–3 Juli 2026.
Saham PT Niramas Utama dijadwalkan mulai tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.
Jadwal tersebut masih dapat berubah sesuai proses pernyataan efektif dan ketentuan pasar modal. Investor perlu memantau prospektus final untuk mengetahui harga penawaran, jumlah saham yang diterbitkan, kode saham, dan jadwal terbaru.
IPO Menjadi Langkah Baru dalam Perjalanan Bisnis Inaco
Rencana IPO membuka tahap baru bagi PT Niramas Utama setelah beroperasi selama lebih dari tiga dekade.
Dana maksimal Rp392 miliar akan diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi, memperkuat gudang dan logistik, mengurangi sebagian pinjaman, serta mendukung kebutuhan operasional.
Keberhasilan ekspansi tidak hanya bergantung pada besarnya dana yang diperoleh. Perseroan perlu memastikan mesin baru dapat meningkatkan produktivitas, kapasitas tambahan terserap pasar, dan biaya bahan baku tetap terkendali.
Bagi calon investor, pertumbuhan laba pada 2025 dan rencana ekspansi menjadi faktor yang dapat dipertimbangkan. Namun, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada pembacaan prospektus final, analisis valuasi, kondisi keuangan, dan toleransi terhadap risiko.











