ekosistembisnis.com – Gelombang baru gaya hidup berkelanjutan kini merambah dunia mode.
Kampanye #EcoStyle yang dimulai dari media sosial TikTok dan Instagram kini menjadi viral, menginspirasi jutaan pengguna untuk mendaur ulang pakaian bekas dan mengurangi limbah fashion.
Sejumlah influencer ternama seperti Clara Santoso, Dini Ayu, dan Rafi Maulana turut menggaungkan pesan untuk memakai kembali baju lama dengan sentuhan kreatif.
Video mereka yang menampilkan before-after fashion DIY (do it yourself) berhasil mengumpulkan jutaan tayangan hanya dalam beberapa hari.
“Fashion tak harus baru setiap bulan. Justru kreativitas muncul saat kita memberi napas kedua pada pakaian lama,” tulis Clara dalam unggahan yang kini sudah ditonton lebih dari dua juta kali.
Gerakan ini bukan sekadar tren, melainkan bagian dari kesadaran global untuk mengurangi limbah tekstil — salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia.
Baca Juga: “GrabFood Hadirkan Program Poin Loyalti untuk Jaga Pelanggan“
Dari Tren Media Sosial ke Gerakan Nyata
Kampanye #EcoStyle awalnya diluncurkan oleh komunitas Sustain.ID, kolaborasi antara desainer lokal dan aktivis lingkungan muda.
Tujuannya sederhana: menjadikan gaya berkelanjutan sebagai pilihan hidup, bukan sekadar gaya sementara.
Beberapa aktivitas yang dilakukan komunitas ini antara lain:
- 👕 Menggelar EcoSwap Day di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
- ♻️ Membuka kelas online tentang cara memperbaiki dan mempercantik pakaian lama.
- 🧵 Bekerja sama dengan penjahit lokal untuk mengubah pakaian bekas menjadi item baru seperti tas, topi, atau outerwear.
Menurut Laras Nirmala, pendiri Sustain.ID, kampanye ini menargetkan generasi muda yang aktif di media sosial.
“Kami tahu anak muda suka tampil stylish, tapi juga semakin peduli bumi. #EcoStyle mengajak mereka menyeimbangkan keduanya,” ujarnya.
Industri Mode Mulai Menyambut
Viralnya kampanye ini juga mulai menarik perhatian pelaku industri fashion.
Beberapa merek lokal seperti Cottonseed Studio, Pijar Apparel, dan Wearcycle kini menghadirkan koleksi berbahan daur ulang.
Retail besar bahkan mulai beradaptasi dengan konsep eco-collection.
Di Jakarta, butik ramah lingkungan Loop Rewear melaporkan peningkatan penjualan hingga 40 persen setelah kampanye #EcoStyle ramai di media sosial.
Menurut pengamat mode Dina Prameswari, gerakan ini menjadi momentum penting untuk mengubah paradigma konsumsi fashion.
“Dulu, orang bangga beli baju baru tiap minggu. Sekarang, mereka bangga saat bisa memodifikasi baju lama jadi keren lagi,” ujarnya.
Dampak Lingkungan dari Fashion Cepat
Fenomena fast fashion selama ini menjadi salah satu penyebab utama penumpukan limbah tekstil di dunia.
Menurut laporan Ellen MacArthur Foundation (2024), sekitar 92 juta ton pakaian dibuang ke tempat sampah setiap tahun, sebagian besar sulit terurai.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa limbah tekstil menyumbang 4,5 persen dari total sampah nasional.
Kampanye #EcoStyle diharapkan bisa menjadi langkah kecil tapi signifikan untuk mengurangi angka tersebut.
Edukasi untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Selain lewat media sosial, komunitas #EcoStyle juga menggelar talkshow dan pameran edukatif di beberapa universitas.
Tema yang diangkat berfokus pada tiga pilar sustainable fashion:
- Reuse: memakai kembali pakaian lama dengan gaya baru.
- Repair: memperbaiki pakaian rusak alih-alih membuangnya.
- Recycle: mengubah bahan lama menjadi produk baru yang fungsional.
Mahasiswa jurusan desain mode dari berbagai kampus seperti ISI Yogyakarta dan Universitas Trisakti turut berpartisipasi dengan menampilkan karya busana daur ulang di pameran “EcoStyle Runway.”
Respons Publik dan Viralitas
Media sosial menjadi motor utama keberhasilan kampanye ini.
Tagar #EcoStyleChallenge sudah digunakan lebih dari 8,7 juta kali di TikTok dan Instagram Reels.
Konten yang paling populer adalah tantangan mix and match baju lama menjadi outfit kekinian tanpa membeli baru.
“Saya coba tantangan #EcoStyle dan berhasil ubah kemeja ayah jadi crop top lucu,” tulis Tasya Pramesti, pengguna TikTok asal Bandung, dalam komentarnya.
Banyak pengguna lain ikut memposting hasil kreasi mereka, menciptakan gelombang partisipasi yang spontan dan penuh kreativitas.
Kolaborasi dengan Desainer dan Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ikut memberikan dukungan terhadap gerakan #EcoStyle.
Dalam pernyataannya, juru bicara Kemenparekraf menyebut bahwa kampanye ini sejalan dengan program nasional “Indonesia Kreatif dan Hijau 2030.”
Selain itu, beberapa desainer ternama seperti Didiet Maulana dan Rinaldy Yunardi turut ambil bagian dengan menciptakan karya busana dari sisa bahan produksi.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi sumber inspirasi baru dalam industri mode Tanah Air.
“EcoStyle adalah bukti bahwa kesadaran lingkungan bisa tampil indah di atas panggung fashion,” ujar Didiet dalam wawancara terpisah.
Refleksi: Gaya yang Tidak Merusak Bumi
Kampanye #EcoStyle menjadi pengingat bahwa gaya dan kesadaran bisa berjalan beriringan.
Lewat ide sederhana — pakai kembali, perbaiki, dan cintai bumi — gerakan ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lemari pakaian kita sendiri.
Bagi generasi muda, fashion kini bukan sekadar ekspresi diri, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial terhadap bumi.
Sebagaimana disampaikan Laras Nirmala:
“Tren akan datang dan pergi, tapi keberlanjutan harus tetap tinggal.”
Dengan kombinasi media sosial, kreativitas, dan kesadaran lingkungan, #EcoStyle telah melahirkan era baru: di mana tampil keren berarti juga peduli.
Baca Juga: “Jurus Mencapai Tujuan saat Banyak Distraksi, Begini Tips dari Merry Riana“











