ekosistembisnis.com – Industri quick commerce Indonesia kembali mencatat pencapaian penting. Sebuah startup lokal, FlashCart, baru saja mengumumkan keberhasilan mengantongi pendanaan sebesar US$51,9 juta (sekitar Rp812 miliar) dalam putaran pendanaan Seri B yang dipimpin oleh East Bridge Ventures dan Gobi Partners.
Pendanaan ini menjadi salah satu yang terbesar di sektor on-demand delivery di Asia Tenggara pada tahun ini.
Investor menilai potensi pertumbuhan pasar quick commerce di Indonesia masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
CEO FlashCart, Aditya Ramadhani, menyebut dana segar tersebut akan digunakan untuk memperluas jangkauan layanan, membangun gudang mikro baru, serta memperkuat riset kecerdasan buatan (AI) untuk prediksi permintaan konsumen.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belanja cepat, efisien, dan lebih ramah lingkungan,” ujar Aditya dalam konferensi pers di Jakarta.
Baca Juga: “Reza Arap dan Dunia Influencer: Dari Konten ke Arah Bisnis Digital“
Apa Itu Quick Commerce dan Mengapa Tumbuh Cepat?
Quick commerce adalah evolusi dari e-commerce yang berfokus pada kecepatan pengantaran barang — biasanya dalam waktu kurang dari 30 menit.
Model bisnis ini memanfaatkan gudang mikro (dark store) di tengah kota dan armada pengantaran terdesentralisasi.
Selama pandemi, konsep quick commerce berkembang pesat karena masyarakat terbiasa dengan layanan serba cepat.
Kini, tren tersebut berlanjut karena perubahan perilaku konsumen yang ingin kemudahan tanpa menunggu lama.
Menurut data Research and Markets 2025, nilai pasar quick commerce di Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$9 miliar pada 2026, dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 40 persen.
Indonesia menjadi kontributor terbesar berkat populasi muda, penetrasi internet tinggi, dan budaya belanja impulsif melalui aplikasi.
FlashCart Fokus di Kota Tier-1 dan Tier-2
FlashCart memulai operasinya pada 2021 dengan konsep “belanja instan” dari toko terdekat.
Melalui aplikasi mobile, pengguna dapat membeli kebutuhan harian seperti bahan makanan, obat, hingga produk rumah tangga, dan barang dikirim dalam waktu 15–25 menit.
Dengan pendanaan baru ini, FlashCart akan menambah 100 gudang mikro di kota-kota Tier-2 seperti Yogyakarta, Semarang, dan Palembang.
Perusahaan juga berencana menggandeng 50 ribu UMKM sebagai mitra pemasok untuk memperkuat rantai pasok lokal.
“Ekspansi ini tidak hanya memperluas jangkauan bisnis, tetapi juga membantu digitalisasi UMKM agar bisa masuk ke ekosistem on-demand,” jelas Aditya.
Investor Yakin dengan Model Bisnis Lokal
Managing Partner East Bridge Ventures, Lisa Teng, menilai pasar Indonesia memiliki kombinasi menarik antara ukuran populasi, perilaku konsumen digital, dan pertumbuhan logistik.
“Kami melihat FlashCart bukan hanya aplikasi pengantaran cepat, tapi solusi efisien untuk distribusi produk dalam negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Gobi Partners menyebut investasi ini bagian dari strategi jangka panjang memperkuat rantai pasok Asia Tenggara.
Mereka optimistis quick commerce akan menjadi tulang punggung ekonomi digital, terutama untuk segmen belanja harian berfrekuensi tinggi.
Teknologi AI Jadi Senjata Utama
FlashCart menekankan peran teknologi dalam menjaga kecepatan layanan.
Melalui sistem berbasis AI Predictive Demand, perusahaan dapat memprediksi pola pembelian di setiap area sehingga stok di gudang selalu tepat sasaran.
Sistem ini juga membantu mengurangi pemborosan logistik dan menurunkan carbon footprint hingga 18 persen.
FlashCart kini tengah mengembangkan algoritma personalisasi agar rekomendasi produk sesuai dengan preferensi pengguna di tiap wilayah.
“Kami tidak hanya ingin cepat, tapi juga cerdas. Teknologi harus membuat layanan ini efisien, bukan sekadar instan,” tutur Aditya.
Persaingan Makin Ketat, Konsumen Untung
Pasar quick commerce di Indonesia kini diwarnai persaingan antara pemain lokal dan regional seperti Astro, Bananas, dan Blibli Express.
Namun, FlashCart menilai kompetisi ini justru positif karena mendorong inovasi.
Konsumen pun menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Waktu pengantaran semakin singkat, ongkir makin terjangkau, dan variasi produk lebih banyak.
Bahkan, beberapa startup mulai menerapkan sistem eco-delivery menggunakan kendaraan listrik untuk menarik konsumen sadar lingkungan.
“Tren quick commerce sedang menuju fase matang. Pemain yang bertahan adalah yang paling efisien dan dekat dengan pelanggan,” kata analis startup dari Indonesia Digital Economy Forum, Rizal Hanafiah.
Potensi Besar Ekonomi Digital Indonesia
Ekspansi quick commerce dinilai sejalan dengan visi pemerintah memperkuat ekonomi digital nasional.
Berdasarkan laporan Kementerian Kominfo, nilai ekonomi digital Indonesia tahun ini sudah melampaui US$80 miliar, dengan sektor logistik dan e-commerce menyumbang porsi terbesar.
FlashCart juga berencana menjalin kerja sama dengan BUMN logistik untuk memperluas pengiriman lintas pulau, terutama di Kalimantan dan Sulawesi.
Perusahaan menargetkan profitabilitas pada 2026 dengan memperbesar volume transaksi dan efisiensi operasional.
Refleksi: Arah Baru Belanja Cepat
Keberhasilan FlashCart meraih pendanaan besar menunjukkan bahwa pasar quick commerce Indonesia sedang memasuki babak baru.
Konsumen tak lagi menilai harga sebagai faktor utama, melainkan kecepatan dan keandalan.
Model bisnis ini dianggap mampu mempercepat inklusi digital, memberdayakan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor logistik.
Namun, keberlanjutan tetap menjadi kunci. Startup perlu menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan praktik bisnis yang ramah lingkungan.
Seperti disampaikan Aditya, “Kecepatan hanyalah awal. Nilai sejati quick commerce adalah bagaimana kita memudahkan hidup orang tanpa merusak bumi.”
Dengan langkah ini, Indonesia semakin menunjukkan diri sebagai pusat inovasi digital Asia Tenggara — di mana teknologi, kecepatan, dan kreativitas tumbuh berdampingan untuk membentuk wajah baru perdagangan masa depan.
Baca Juga: “Cuaca Ekstrem Mengintai, BPBD Lebak Minta Warga Waspada Longsor“











