ekosistembisnis.com — Jambi kini menjadi sorotan dunia pertanian nasional. Perusahaan agritech lokal BioFarms Jambi resmi meluncurkan program pendanaan petani mikro yang ditujukan untuk membantu petani kecil mengakses modal kerja tanpa harus melalui proses panjang perbankan.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan rantai pasok pertanian yang berkelanjutan dan inklusif.
“Petani di daerah sering terkendala modal dan akses pasar. Kami hadir untuk menjembatani dua hal itu,” ujar Dimas Setyawan, CEO BioFarms Jambi.
Inisiatif ini menargetkan lebih dari 3.000 petani di wilayah Jambi, Muaro Bungo, dan Sarolangun. Melalui skema berbasis digital, pendanaan dilakukan dengan sistem penilaian risiko menggunakan data cuaca, hasil panen, dan riwayat lahan.
Baca Juga: “PromoWorks Pontianak baru Gelar Kampanye Interaktif VR“
BioFarms Jambi Luncurkan Skema Pendanaan Fleksibel dan Transparan
Program ini menggunakan pendekatan peer-funding yang memungkinkan investor individu menyalurkan dana langsung ke kelompok tani.
BioFarms bertindak sebagai fasilitator, memverifikasi data petani dan memastikan dana digunakan sesuai rencana tanam.
Rincian skema pendanaan BioFarms:
- Nominal pendanaan: mulai dari Rp2 juta – Rp20 juta per petani.
- Tenor waktu: 4–8 bulan, tergantung masa panen.
- Bunga rendah: maksimal 3% per bulan.
- Transparansi digital: seluruh transaksi terekam di aplikasi BioFarms.
Setiap petani dapat memantau penggunaan modal melalui dashboard petani digital, sedangkan investor bisa melihat perkembangan lahan dan estimasi hasil panen secara real time.
“Transparansi menjadi kunci kepercayaan. Petani tahu dari mana dananya, investor tahu ke mana uangnya pergi,” kata Dimas.
BioFarms Jambi Berfokus pada Komoditas Unggulan Jambi
BioFarms memilih tiga komoditas utama untuk tahap pertama: kopi liberika, cabai merah, dan padi organik.
Ketiga tanaman ini memiliki potensi ekspor tinggi dan nilai tambah signifikan.
Kopi liberika Jambi telah lama dikenal di pasar Eropa berkat aroma kuat dan kadar kafein sedang.
Sementara cabai merah lokal menjadi produk unggulan pasar domestik, terutama untuk industri kuliner dan ekspor ke Singapura.
Potensi hasil per hektare:
| Komoditas | Rata-rata Panen | Potensi Pendapatan Bersih / Siklus |
|---|---|---|
| Kopi Liberika | 1,2 ton | Rp25 juta – Rp30 juta |
| Cabai Merah | 6 ton | Rp20 juta – Rp25 juta |
| Padi Organik | 4 ton | Rp18 juta – Rp22 juta |
Selain pendanaan, BioFarms juga memberikan pelatihan manajemen lahan, pupuk organik, dan strategi pascapanen.
Langkah ini bertujuan agar hasil pendanaan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga efisiensi dan keberlanjutan lahan.
BioFarms Jambi Adakan Pelatihan Digital untuk Petani Muda
Menariknya, program ini turut menyasar generasi muda desa yang mulai tertarik mengembangkan agribisnis digital.
BioFarms menggandeng Politeknik Pertanian Jambi untuk menyusun kurikulum pelatihan berisi dasar keuangan, analisis risiko, dan pemanfaatan teknologi IoT di lahan pertanian.
“Kami melihat potensi besar petani muda untuk memodernisasi sektor pertanian,” jelas Rani Pradipta, Kepala Program Edukasi BioFarms.
Pelatihan ini dilakukan dengan metode blended learning — teori online dan praktik lapangan.
Peserta diajari cara membaca data cuaca, mengatur irigasi otomatis, hingga mengukur tingkat kelembapan tanah.
Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan dan Startup Agritech
Agar skema ini berkelanjutan, BioFarms bekerja sama dengan Bank Jambi, startup fintech AgriFund, dan koperasi tani setempat.
Kolaborasi ini menciptakan ekosistem yang saling menguatkan antara pendanaan, edukasi, dan distribusi hasil panen.
Bank Jambi menyediakan rekening escrow digital untuk menyalurkan dana investasi dengan sistem pengawasan langsung, sementara AgriFund membantu dalam penilaian kredit berbasis data pertanian (agri-scoring).
“Kami tidak hanya memberi pinjaman, tapi juga membangun sistem agar petani bisa mandiri secara finansial,” tutur Rani.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Sejak tahap awal peluncuran, program BioFarms telah membantu 800 petani mendapatkan akses modal produktif.
Beberapa di antaranya melaporkan kenaikan hasil panen hingga 25% dan penurunan penggunaan pupuk kimia sebesar 40%.
Selain itu, BioFarms juga menanam 1.000 pohon pelindung di sekitar lahan kopi sebagai bagian dari kompensasi karbon.
Langkah ini menjadikan BioFarms salah satu pelopor pertanian karbon-netral di Indonesia bagian barat.
“Kami ingin memastikan pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan keseimbangan alam,” ujar Dimas.
🌾 Refleksi – Menumbuhkan Harapan dari Tanah Sendiri
Inovasi pendanaan petani yang dilakukan BioFarms Jambi bukan sekadar proyek bisnis, melainkan gerakan sosial ekonomi baru.
Program ini memadukan semangat teknologi, keberlanjutan, dan kemandirian lokal dalam satu ekosistem yang solid.
Petani kini tak lagi hanya bergantung pada tengkulak, tapi memiliki akses modal dan pasar digital yang transparan.
BioFarms menjadi jembatan antara dunia finansial dan pertanian rakyat — mengubah pola pikir bahwa menanam bisa sejalan dengan inovasi.
“Dari tanah yang sama, kini tumbuh harapan baru,” tutup Dimas dengan optimistis.
Baca juga: “Usaha Kuliner Lokal Tumbuh Pesat Berkat Platform Digital“











