ekosistembisnis.com – Di tengah berkembangnya ekonomi biru nasional, startup maritim ArunaTech menghadirkan terobosan baru dalam dunia finansial pesisir. Perusahaan rintisan ini meluncurkan platform keuangan laut digital yang dirancang khusus untuk membantu nelayan muda Indonesia mengelola hasil tangkapan, mengakses pinjaman modal, serta menabung secara digital dengan sistem yang transparan dan mudah digunakan.
Langkah ini menjadi wujud nyata upaya membangun ekonomi maritim berkelanjutan berbasis teknologi. Melalui pendekatan fintech blue economy, ArunaTech menargetkan kelompok nelayan muda yang mulai memanfaatkan digitalisasi dalam aktivitas melaut dan berdagang hasil tangkapan.
“Kami ingin menjadikan laut bukan hanya sumber pangan, tapi juga sumber kesejahteraan melalui literasi keuangan yang modern,” ujar Dian Prakoso, CEO dan pendiri ArunaTech.
Baca Juga: “Mitra Brand Asha Populerkan Promosi Tanpa Suara di Media Sosial“
ArunaTech Solusi Digital bagi Tantangan Nelayan
Selama ini, banyak nelayan di Indonesia sulit mendapatkan akses keuangan formal karena keterbatasan dokumen, fluktuasi pendapatan, dan ketergantungan pada tengkulak. Kondisi ini membuat nelayan sulit berkembang secara ekonomi meskipun produktif di laut.
ArunaTech mencoba memecahkan masalah tersebut dengan menciptakan sistem penilaian kredit berbasis aktivitas melaut, yang menilai kelayakan kredit nelayan bukan dari slip gaji, tetapi dari data hasil tangkapan dan konsistensi kerja di laut.
Fitur Unggulan Platform ArunaTech
- SmartCatch Record: mencatat hasil tangkapan harian nelayan secara otomatis melalui sensor di kapal atau pelabuhan.
- BlueScore System: sistem penilaian kredit berdasarkan produktivitas melaut dan riwayat transaksi hasil laut.
- Digital Wallet LautKu: dompet digital yang memudahkan nelayan bertransaksi tanpa uang tunai.
- Dana Mitra Samudra: pinjaman mikro berbunga rendah untuk pembelian jaring, perbaikan kapal, dan bahan bakar.
“Nelayan yang aktif dan konsisten melaut akan memiliki nilai kredit tinggi. Data tangkapan menjadi modal baru untuk kepercayaan lembaga keuangan,” jelas Dian.
Kolaborasi dengan Bank dan Koperasi Pesisir
Untuk memperluas akses finansial, ArunaTech bekerja sama dengan bank daerah dan koperasi nelayan di 12 provinsi pesisir, termasuk Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Kolaborasi ini memungkinkan proses verifikasi dan pencairan dana berlangsung cepat melalui sistem digital.
Nelayan cukup mendaftar di aplikasi menggunakan identitas digital. Setelah data diverifikasi, sistem akan menentukan plafon kredit secara otomatis sesuai kapasitas tangkapan dan potensi penghasilan.
“Kami mendesain sistem pembayaran yang fleksibel. Nelayan dapat mencicil setelah musim panen ikan, bukan setiap bulan seperti pinjaman konvensional,” ujar Ayu Mahendra, Direktur Keuangan ArunaTech.
Selain layanan pinjaman, koperasi pesisir yang menjadi mitra ArunaTech juga membantu memberikan edukasi tentang pengelolaan keuangan dan literasi digital. Dengan demikian, nelayan muda tidak hanya mendapatkan modal, tetapi juga kemampuan mengatur pendapatan dengan lebih bijak.
Dukung Regenerasi Nelayan Muda
Salah satu misi besar ArunaTech adalah menarik minat generasi muda untuk kembali ke laut. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak anak nelayan yang beralih profesi karena menganggap pekerjaan melaut tidak menjanjikan secara ekonomi.
Dengan hadirnya teknologi digital, sistem harga yang transparan, dan kemudahan pembiayaan, profesi nelayan kini menjadi lebih profesional dan menjanjikan. ArunaTech bahkan meluncurkan program “Smart Young Fisher”, yang menggabungkan pelatihan keuangan, pemasaran hasil laut digital, dan penggunaan aplikasi berbasis data laut.
Program Regenerasi yang Diluncurkan
- Pelatihan digitalisasi perikanan untuk nelayan usia 18–35 tahun.
- Inkubator wirausaha laut, yang membantu nelayan mengelola hasil tangkapan menjadi produk siap jual.
- Kemitraan ekspor hasil laut digital, di mana hasil tangkapan bisa dijual langsung ke pembeli luar negeri melalui aplikasi ArunaTrade.
“Kami ingin membangun ekosistem di mana nelayan muda dapat hidup sejahtera tanpa meninggalkan akar budaya maritim,” tambah Dian.
ArunaTech Garap Inovasi Keuangan; Dampak Nyata untuk Ekonomi Pesisir
Sejak diluncurkan pada pertengahan tahun, ArunaTech telah menjangkau lebih dari 7.000 nelayan aktif di berbagai daerah pesisir. Total transaksi yang tercatat mencapai Rp 15 miliar, dengan tingkat pengembalian pinjaman mencapai 98 persen.
Platform ini juga memberi efek ganda terhadap praktik perikanan berkelanjutan. Setiap pengguna diwajibkan melaporkan jenis dan jumlah ikan yang ditangkap. Data tersebut digunakan untuk mengontrol aktivitas penangkapan agar tidak melampaui batas ekologis.
“Teknologi ini bukan hanya membantu nelayan mendapat penghasilan, tapi juga menjaga keseimbangan laut,” ujar Ayu.
Sebagian laba dari ArunaTech juga dialokasikan untuk Blue Education Fund, program beasiswa bagi anak-anak nelayan yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang kelautan, teknologi, dan keuangan.
Tantangan Implementasi
Meski potensinya besar, ArunaTech menghadapi beberapa kendala, terutama keterbatasan jaringan internet di wilayah pesisir dan rendahnya literasi digital di kalangan nelayan senior. Untuk mengatasinya, startup ini bekerja sama dengan operator telekomunikasi nasional untuk memperluas jangkauan jaringan laut dan mengembangkan aplikasi yang bisa berjalan secara offline mode.
Selain itu, ArunaTech terus berupaya menarik dukungan investasi dari lembaga keuangan internasional yang berfokus pada pendanaan hijau (blue financing). Langkah ini diharapkan dapat memperkuat infrastruktur keuangan laut digital dan memperluas jangkauan ke wilayah pesisir terpencil.
“Kami percaya bahwa inklusi keuangan laut dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi biru Indonesia,” kata Dian.
Harapan ke Depan
ArunaTech berkomitmen menjadikan inovasi ini sebagai bagian dari ekosistem ekonomi maritim nasional. Dengan digitalisasi keuangan, nelayan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku aktif dalam ekonomi digital pesisir.
Startup ini juga menyiapkan fitur “Market Insight Laut”, yang menampilkan data harga ikan nasional dan permintaan ekspor secara real time. Fitur ini diharapkan membantu nelayan menentukan jenis tangkapan yang paling menguntungkan setiap musim.
“Visi kami sederhana: menjadikan laut Indonesia sebagai ruang ekonomi yang inklusif, transparan, dan ramah lingkungan,” tutup Dian.
Baca Juga: “Digitalisasi UMKM, Menteri Maman Apresiasi Peran SRC Bangun Ekosistem“











