The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ini Dampaknya terhadap Kartu Kredit, KPR, hingga Tabungan
ekosistembisnis.com – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan moneternya pada Rabu waktu setempat. Meskipun tidak ada perubahan pada tingkat suku bunga, keputusan tersebut tetap membawa konsekuensi bagi masyarakat, terutama terkait biaya pinjaman, bunga kartu kredit, kredit kendaraan, kredit pemilikan rumah (KPR), hingga imbal hasil tabungan.
Keputusan ini muncul ketika bank sentral masih berupaya menekan inflasi yang belum sepenuhnya stabil. Di saat yang sama, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran, juga dinilai berpotensi memperpanjang tekanan harga energi dan memperumit arah kebijakan moneter AS dalam beberapa bulan mendatang.
Inflasi dan Konflik Global Masih Membayangi Kebijakan The Fed
Sejumlah ekonom menilai lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik berisiko memicu inflasi yang lebih persisten. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan The Fed memilih mempertahankan suku bunga sambil mengevaluasi dampak perkembangan ekonomi global terhadap pertumbuhan domestik.
Apabila tekanan inflasi kembali meningkat, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya, termasuk pada September, masih terbuka. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan keinginannya agar AS memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia guna mendorong aktivitas ekonomi.
Kepala Ekonom Raymond James, Eugenio Alemán, mengatakan arah kebijakan bank sentral masih sulit diprediksi karena banyak faktor yang memengaruhi keputusan akhir.
“Sangat sulit membaca sikap ketua dan mengetahui pandangannya mengenai arah kebijakan ke depan,” ujar Alemán, merujuk pada Ketua The Fed Kevin Warsh.
Menurutnya, apabila suku bunga kembali dinaikkan, tekanan terhadap daya beli masyarakat akan semakin besar karena biaya pinjaman ikut meningkat.
Cara Suku Bunga The Fed Memengaruhi Keuangan Konsumen
The Fed mengendalikan federal funds rate, yaitu suku bunga acuan yang digunakan bank untuk transaksi pinjaman jangka sangat pendek antarbank. Meskipun masyarakat tidak meminjam langsung dengan suku bunga tersebut, perubahan federal funds rate akan memengaruhi berbagai produk keuangan yang digunakan sehari-hari.
Bunga kartu kredit, kredit kendaraan, pinjaman usaha, hingga tingkat bunga tabungan biasanya ikut bergerak mengikuti arah kebijakan The Fed. Untuk produk pinjaman jangka panjang seperti KPR, pergerakannya lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Baca Juga : “Danantara Merger Empat BUMN Manajemen Aset Nasional“
Bunga Kartu Kredit Diperkirakan Tetap Mahal
Keputusan mempertahankan suku bunga berarti pemegang kartu kredit belum dapat berharap biaya bunga turun dalam waktu dekat. Sebagian besar kartu kredit menggunakan bunga variabel sehingga perubahan kebijakan The Fed memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat bunganya.
Data LendingTree menunjukkan rata-rata bunga kartu kredit baru masih bertahan di kisaran 24 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Chief Consumer Finance Analyst LendingTree, Matt Schulz, mengatakan konsumen sebaiknya tidak berharap penurunan bunga terjadi dalam waktu dekat.
“Siapa pun yang berharap The Fed datang menyelamatkan keadaan dan menurunkan suku bunga hampir pasti akan kecewa,” kata Schulz.
Kondisi tersebut membuat masyarakat yang masih memiliki saldo kartu kredit harus terus menanggung biaya bunga tinggi hingga ada perubahan kebijakan moneter.
Kredit Kendaraan Masih Dibayangi Biaya Pinjaman Tinggi
Meskipun bunga kredit kendaraan bersifat tetap selama masa cicilan, tingginya suku bunga acuan tetap memengaruhi besaran bunga yang ditawarkan lembaga pembiayaan kepada calon pembeli.
Berdasarkan data Edmunds, rata-rata bunga kredit mobil baru dengan tenor enam tahun berada di sekitar 7 persen. Sementara itu, bunga kredit mobil bekas mencapai rata-rata 10,5 persen.
Head of Insights Edmunds, Jessica Caldwell, menilai belum ada tanda-tanda biaya pembiayaan kendaraan akan segera turun.
Menurutnya, suku bunga tinggi membuat produsen otomotif semakin sulit menawarkan program pembiayaan dengan bunga nol persen secara luas. Dampaknya, konsumen berpenghasilan menengah dan rendah semakin kesulitan membeli kendaraan baru, sementara pasar lebih banyak didominasi pembeli dengan kemampuan finansial lebih tinggi.
Dampak terhadap Pinjaman Mahasiswa dan Kredit Pemilikan Rumah
Berbeda dengan kartu kredit, pinjaman mahasiswa federal di Amerika Serikat menggunakan bunga tetap sehingga peminjam lama relatif tidak terdampak oleh keputusan terbaru The Fed.
Namun, bunga bagi peminjam baru diperkirakan meningkat karena mengikuti hasil lelang obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan penentuan suku bunga pinjaman pendidikan.
Kondisi serupa juga terjadi pada KPR berbunga tetap. Produk ini tidak mengikuti federal funds rate secara langsung, melainkan lebih dipengaruhi oleh pergerakan imbal hasil Treasury jangka panjang.
Mortgage News Daily mencatat rata-rata bunga KPR tetap tenor 30 tahun telah mencapai sekitar 6,76 persen per 28 Juli. Angka tersebut mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir.
Chief Investment Officer sekaligus Head Economist LoanDepot, Jeff DerGurahian, mengatakan penurunan bunga KPR baru berpeluang terjadi apabila inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih kuat atau pasar tenaga kerja mulai melemah.
Penabung Masih Mendapatkan Imbal Hasil Menarik
Di tengah tingginya biaya pinjaman, masyarakat yang memiliki dana simpanan justru masih menikmati keuntungan dari suku bunga tinggi.
Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga membuat tingkat bunga tabungan, khususnya rekening berbunga tinggi, tetap berada di level yang kompetitif.
Data Bankrate menunjukkan sejumlah rekening tabungan online masih menawarkan imbal hasil sekitar 4 persen, jauh di atas rata-rata historis dalam beberapa tahun terakhir.
Matt Schulz menilai kondisi ini masih menguntungkan bagi masyarakat yang ingin meningkatkan nilai tabungan tanpa mengambil risiko investasi yang lebih besar.
Menurutnya, bunga deposito dan rekening tabungan memang sudah turun dibandingkan puncaknya beberapa tahun lalu, tetapi tetap berada pada level yang menarik.
Pengendalian Inflasi Tetap Menjadi Dampak Terbesar
Bagi sebagian besar rumah tangga, manfaat utama dari kebijakan suku bunga tinggi sebenarnya bukan berasal dari bunga tabungan, melainkan dari upaya The Fed mengendalikan inflasi.
Jika inflasi berhasil ditekan, harga kebutuhan pokok, energi, hingga berbagai barang konsumsi dapat menjadi lebih stabil sehingga daya beli masyarakat berangsur membaik.
Namun, proses tersebut membutuhkan waktu dan selama periode itu masyarakat masih harus menghadapi biaya pinjaman yang relatif tinggi.
Sejumlah pakar keuangan menyarankan konsumen untuk melunasi utang berbunga tinggi lebih dahulu, membandingkan penawaran bunga sebelum mengambil pinjaman baru, serta memanfaatkan rekening tabungan dengan bunga kompetitif agar kondisi keuangan tetap terjaga.
Schulz menegaskan bahwa masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk mengelola beban bunga dibandingkan yang sering diperkirakan.
“Anda memiliki kendali atas suku bunga lebih besar daripada yang Anda kira. Membandingkan penawaran pinjaman baru atau melakukan refinancing pada waktu yang tepat dapat menghasilkan penghematan yang signifikan,” tutupnya.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan dinamika ekonomi global. Ketiga faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama apakah The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga atau mulai mengubah arah kebijakan moneternya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
