ekosistembisnis.com – Di tengah maraknya penggunaan media sosial sebagai hiburan semata, Influencer Adi Prasetya, konten kreator asal Semarang, mengajak generasi muda untuk mengubah cara bermedia menjadi lebih produktif. Melalui kampanye digital bertajuk “Scroll with Purpose”, Adi mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial untuk belajar, membangun relasi, dan mengembangkan potensi diri.
“Media sosial bukan musuh. Yang penting bagaimana kita memakainya — apakah sekadar hiburan atau jadi alat tumbuh,” ujar Adi saat berbicara di acara Digital Youth Forum di Semarang.
Baca Juga: “Pengrajin Kayu Luwuk Kembangkan Toko Online Virtual Showroom“
Influencer Adi Semarang Ajak Mengubah Kebiasaan Digital Anak Muda
Adi, yang memiliki lebih dari 800 ribu pengikut di berbagai platform, mengaku prihatin melihat tingginya waktu konsumsi media sosial tanpa arah yang dilakukan anak muda. Ia menilai bahwa penggunaan media yang tidak terarah bisa menurunkan fokus, memicu stres, dan menghambat produktivitas.
Melalui konten video pendeknya, Adi sering membagikan tips manajemen waktu digital, strategi content creation positif, serta cara menggunakan media sosial untuk menemukan peluang karier dan bisnis.
Pesan utama kampanye “Scroll with Purpose”:
- Gunakan media untuk belajar dan berbagi wawasan.
- Kurangi doomscrolling dan atur waktu layar maksimal 3 jam per hari.
- Gunakan platform sosial untuk jejaring profesional dan proyek kreatif.
- Hindari konten negatif yang tidak menambah nilai diri.
“Anak muda bisa tumbuh luar biasa lewat media, asal tahu arah dan niatnya,” tegas Adi.
Influencer Adi Mendorong Kreativitas dan Literasi Digital
Dalam setiap unggahan, Adi berupaya menumbuhkan kecakapan digital dan kreativitas konten positif di kalangan remaja. Ia menunjukkan bagaimana ide sederhana bisa berkembang menjadi konten edukatif yang menarik dan berdampak.
Ia juga aktif mengadakan kelas daring “Media for Growth”, yang diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh Indonesia. Dalam kelas ini, peserta diajarkan cara membuat konten edukatif, strategi kolaborasi, hingga membangun personal branding tanpa harus mengikuti tren negatif.
Fokus utama pelatihan Media for Growth:
- Mengenali kekuatan diri sebelum membuat konten.
- Menggunakan media sosial untuk mengedukasi, bukan hanya menghibur.
- Teknik storytelling yang membangun nilai positif.
- Strategi menjadikan media sosial sebagai portofolio digital profesional.
“Anak muda punya potensi besar, hanya perlu diarahkan agar energi kreatifnya bermanfaat,” kata Adi.
Kolaborasi Influencer Adi dengan Sekolah dan Komunitas Lokal
Gerakan Adi mendapat dukungan luas dari sekolah dan komunitas kreatif di Semarang. Ia kerap diundang sebagai pembicara dalam seminar dan workshop literasi digital yang diselenggarakan oleh kampus, Dinas Kominfo, dan komunitas pemuda.
“Kami ingin menanamkan mindset baru: main media boleh, tapi harus cerdas dan produktif,” ujar Sri Lestari, kepala sekolah SMKN 4 Semarang yang bekerja sama dengan Adi.
Selain memberi pelatihan langsung, Adi juga berkolaborasi dengan komunitas Young Creators Semarang untuk membuat proyek sosial digital seperti kampanye #MediaUntukBaik, yang mempromosikan empati dan solidaritas lewat platform online.
Kegiatan komunitas bersama Adi Prasetya:
- Workshop literasi digital untuk pelajar SMA dan mahasiswa.
- Produksi video pendek bertema lingkungan dan pendidikan.
- Tantangan konten positif “1 Minggu Tanpa Negativitas Online.”
- Penggalangan dana melalui konten sosial berbasis komunitas.
“Media sosial bisa jadi ruang gotong royong modern, bukan sekadar ajang pamer,” tutur Adi saat menutup salah satu workshop.
Dampak Positif bagi Generasi Muda
Sejak dimulainya kampanye Scroll with Purpose, banyak peserta melaporkan perubahan kebiasaan dalam menggunakan media sosial. Mereka lebih selektif mengikuti akun, membatasi waktu online, dan mulai membuat konten bermanfaat seperti edukasi karier, hobi, dan komunitas.
“Dulu saya sering merasa waktu habis cuma buat scroll. Sekarang saya gunakan untuk belajar desain dan ikut proyek konten,” kata Dewi (21), mahasiswa asal Ungaran.
Adi juga mencatat peningkatan jumlah peserta yang menggunakan media sosial untuk membangun usaha mikro, seperti menjual produk buatan sendiri atau menawarkan jasa kreatif. Menurutnya, inovasi digital tidak harus dimulai besar, cukup dari langkah kecil yang konsisten.
Perubahan nyata setelah kampanye:
- 67% peserta mengurangi waktu layar hingga 40%.
- 58% mulai membuat konten edukatif atau sosial.
- 45% menggunakan media sosial untuk peluang kerja atau bisnis.
- Banyak komunitas lokal terbentuk melalui kolaborasi digital.
“Kalau kita bisa menjadikan media sosial alat kemajuan, masa depan digital Indonesia akan lebih sehat,” ujar Adi optimis.
Menuju Ekosistem Digital yang Sehat
Adi menilai bahwa menciptakan ekosistem digital produktif bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama antara pengguna, pendidik, dan kreator konten. Ia berharap semakin banyak influencer dan tokoh muda yang ikut menularkan semangat bermedia dengan tujuan.
“Influencer seharusnya jadi inspirator, bukan hanya penghibur. Saat anak muda melihat contoh positif, mereka akan ikut bergerak,” tegasnya.
Ke depan, Adi berencana memperluas kampanyenya ke tingkat nasional dengan menggandeng platform digital besar dan lembaga pendidikan untuk membentuk Gerakan Nasional Media Produktif Anak Muda.
Dengan pendekatan yang inspiratif, Adi Prasetya membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi ruang belajar, berkarya, dan membangun masa depan, bukan sekadar tempat berlomba mendapatkan likes dan views.
Baca Juga: “Anggota DPR bersama BRIN bantu pemasaran produk UMKM di Rejang Lebong“











